INDEPENDEN, Bogor - Kegiatan Training of Trainers Data Driven Journalism yang berlangsung sejak 11 – 12 Februari di Bogor, Jawa Barat, menghasilkan sejumlah artikel yang cukup informatif bagi masyarakat. Kegiatan yang terselenggara hasil kerjasama antara Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia dengan CEGAH – USAID diikuti puluhan jurnalis senior.
Dari kegiatan ini, para peserta diminta untuk membuat artikel dari open data yang telah disediakan pemerintah. Salah satunya adalah hasil analisa dari data Kementerian Kesehatan yang menunjukkan adanya keterkaitan antara penggunaan alat kontrasepsi dengan pendapatan. Analisa ini dilakukan pada wilayah dengan jumlah penduduk terbesar di Indonesia, provinsi Jawa Barat.
Banyak anak, banyak rejeki. mitos ini tampaknya tidak berlaku untuk sebagian besar warga di Jawa Barat. Perbandingan data pendapatan per kapita dibandingkan penggunaan alat kontrasepsi dalam Indeks Pembangunan Manusia Provinsi Jawa Barat tahun 2009 mempertegas temuan itu.

Dari hasil analisa data, Kota Cimahi menjadi kota tertinggi tingkat penggunaan alat kontrasepsi yaitu mencapai 89,58 persen. Pendapatan per kapita di kota ini pun cukup tinggi yaitu mencapai Rp 630.060.
Sementara itu, pendapatan per kapita terendah terpantau di Kabupaten Cianjur sebesar Rp 613 ribu dengan pengguna alat kontrasepsi mencapai 75,39 persen.
">
Dari temuan ini, Pemerintah Provinsi Jawa Barat perlu mempertimbangkan pengalokasikan dana terkait diseminasi penggunaan alat kontrasepsi. Badan Pusat Statistik (BPS) memproyeksikan jumlah penduduk di Jawa Barat pada tahun 2020 mencapai 52 juta jiwa.