Independen --- Setahun sudah pandemi Covid-19 mengungkung dunia. Tak ada obat yang mujarab, vaksin menjadi harapan.
Sejak awal ditemukan pada pertengahan Desember 2019, hingga hari ini 31 Januari 2021, menurut data dari worldometers.info pandemi Covid-19 sudah menginfeksi lebih dari 103 juta warga dunia. Jumlah korban yang meninggal lebih dari angka 2,2 juta. Sedangkan mereka yang berhasil sembuh mencapai 74,8 juta. Artinya ada sekitar 26 juta orang sedang berjuang untuk sembuh. Di Indonesia, virus ini sudah menginfeksi lebih dari 1 juta, yaitu 1.073.314 orang, jumlah yang berhasil sembuh ssekitar 873.221 dan yang meninggal dunia mencapai 29.998 kasus. Masih ada 17.095 orang yang dirawat.
Belum ada obat yang berhasil ditemukan. Harapan satu-satunya untuk menghentikan penyebaran dan penularan adalah melalui vaksin. Menurut hitungan herd immunity atau kekebalan kelompok, untuk penduduk Indonesia yang jumlahnya lebih dari 200 juta, maka dua pertiga penduduk atau sekitar 181,5 juta penduduk Indonesia harus mendapat vaksinasi. Artinya, dibutuhkan kurang lebih 468,8 juta dosis vaksin.
Untuk memenuhi kebutuhan vaksin, Pemerintah menempuh beberapa jalan. Langkah pertama adalah melakukan kerjasama bilateral dengan beberapa perusahan farmasi. Menteri Kesehatan yang baru, Budi Gunadi Sadikin mengeluarkan Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor HK.01.07/MENKES/12758/2020 tentang Penetapan Jenis Vaksin untuk Pelaksanaan Vaksinasi Covid-19. Isi keputusan ini adalah penetapan jenis vaksin yang digunakan di Indonesia yaitu vaksin produksi PT Bio Farma (Sinovac maupun Merah Putih), AstraZeneca, Sinopharm, Moderna, Novavax, Pfizer Inc. and BioNTech, dan Sinovac. Keputusan Menteri ini adalah revisi dari Keputusan Menteri sebelumnya yang hanya menetapkan 6 jenis vaksin tanpa memasukkan Novavax.
Sementara pengadaan vaksin secara multilateral dilakukan melalui GAVI (Global Alliance for Vaccine and Immunization ) , yaitu koalisi negara-negara dunia yang berkomitmen menyediakan vaksin Covid-19. Koalisi negara-negara ini berada di bawah WHO yang merupakan fasilitator dari pilar akses vaksin Covid-19 buatan Covax.
Dari beberapa upaya tersebut, telah diperoleh sejumlah komitmen jumlah dosis yang bisa diberikan untuk Indonesia. Kerjasama dengan Sinovac, Indonesia akan memperoleh 125 juta vaksin. Kemudian dengan AstraZaneca dan Novavax sudah ditandatangani kontrak masing-masing 50 juta dosis vaksin. Lewat skema GAVI, akhir Januari lalu, Indonesia mendapat komitmen 13,7 sampai 23,1 juta dosis vaksin AstraZaneca. Total vaksin yang sudah ditandatangani kontrak adalah 248,1 juta dosis. Ini masih jauh dari target pemerintah yaitu setidaknya 400 juta dosis untuk target vaksinasi 181,5 juta penduduk Indonesia. Namun Menteri Kesehatan Budi G. Sadikin optimis dapat mengamankan sekitar 660 juta dosis vaksin dari berbagai sumber.
Sampai Januari 2021, vaksin Sinovac sudah didatangkan sebanyak 3 juta dosis. Dan vaksin ini mulai diberikan pada para tenaga kesehatan setelah Presiden Jokowi menjadi orang pertama yang mendapatkan vaksin Sinovac pada 13 Januari 2021 lalu. Secara bertahap, pemerintah berharap bisa memenuhi kebutuhan vaksin untuk seluruh rakyat Indonesia. Selain vaksin yang didatangkan dari luar negeri, pemerintah RI juga mengembangkan vaksin buatan dalam negeri.

Vaksin Merah Putih
PT Bio Farma, sebuah Badan Usaha Milik Negara ditunjuk untuk menjadi pionir mewujudkan vaksin buatan Indonesia, yang disebut sebagai Vaksin Merah Putih. Perusahaan farmasi inilah yang akan memproduksi Vaksin Merah Putih. Namun pengembang Vaksin Merah Putih, telah dilakukan oleh 6 lembaga yaitu Eijkman, LIPI dan 4 kampus ternama yaitu UI, ITB, UGM dan Unair
Menristekdikti mendefinisikan vaksin Merah Putih sebagai vaksin berbasis virus yang bersirkulasi atau bertransmisi di Indonesia. Lalu, bibit vaksinnya juga dihasilkan oleh peneliti Indonesia sendiri.
Pengembangan vaksin ini bukan saja untuk menutupi kekurangan vaksin yang diperlukan, namun juga untuk kepentingan jangka panjang, yaitu kemandirian vaksin.
Menurut Menteri Riset dan Teknologi Bambang PS Brodjonegoro kemandirian vaksin sangat diperlukan. Sebab, vaksin yang ada sekarang tak akan mampu menjaga daya tahan tubuh seumur hidup. Dengan demikian akan ada kebutuhan revaksinasi atau semacam booster atau imunisasi ulang.
“Tentunya kita juga ingin mengedepankan kesehatan yang bersifat preventif. Ingin mencegah penyakit bukan sekadar menyembuhkan penyakit. Oleh karena itu, kemandirian vaksin sangat diperlukan,” kata Bambang dalam siaran persnya.
Oleh karena itu, pihak Kemenristek memastikan mempercepat uji klinis Vaksin Corona Merah Putih agar akhir 2022 bisa mulai diproduksi secara massal untuk masyarakat.
"Kami sudah komunikasi dengan Bio Farma sudah komunikasi dengan BPOM kita akan melakukan upaya percepatan untuk uji klinis, tetap dengan memperhatikan semua protokol yang dibutuhkan," kata Bambang.
Menristek menegaskan, pihaknya bersinergi dengan Bio Farma dan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) untuk melakukan upaya percepatan untuk pelaksanaan uji klinis Vaksin Merah Putih.
Demi memperkuat keakuratan vaksin Merah Putih, saat ini telah dikirim 114 whole genome sequencing (WGS) dari pasien positif corona di Indonesia kepada Bank Data Virus Influenza Dunia (GISAID).
Enam lembaga yang mengembangkan Vaksin Merah Putih, yaitu Eijkman, LIPI, UI, UGM, ITB dan Universitas Airlangga mendapat dukungan langsung dari Kemenristek dalam bentuk fasilitasi, juga biaya. Dari keenam lembaga tersebut, Eijkman disebut sebagai lembaga yang perkembangannya paling cepat. Kepala Lembaga Biologi Molekuler (LBM) Eijkman Amin Soebandrio menargetkan pada akhir Maret 2021 sudah bisa menyerahkan bibit vaksin (Merah Putih) ke PT Bio Farma untuk dilanjutkan dengan uji klinis 1 sampai 3.
Vaksin tersebut dikembangkan dengan platform subunit protein rekombinan berdasarkan isolat virus SARS-CoV-2 penyebab Covid-19 yang beredar di Indonesia. Vaksin Merah Putih yang dikembangkan Eijkman ditargetkan mendapat izin penggunaan darurat pada 2021 setelah lulus uji klinis dan praklinis.
"Bibit vaksin Merah Putih berpotensi akan diserahkan oleh Lembaga Biologi dan Molekuler Eijkman kepada PT Bio Farma pada triwulan pertama tahun 2021," ujar Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito.
Nantinya, hasil uji klinis akan diberikan kepada Badan Pemeriksa Obat dan Makanan (BPOM) sebagai syarat penerbitan emergency use of authorization (EUA). Wiku juga mengatakan, pemerintah akan memastikan bahwa vaksin yang nanti digunakan aman, minim efek samping dan halal.
Universitas Indonesia mengembangkan vaksin dengan tiga platform, yaitu DNA, RNA, dan virus-like particle (VLP). ITB dan Universitas Airlangga masing-masing mengembangkan vaksin dengan platform adenovirus. LIPI mengembangkan vaksin dengan platform protein fusi. Sementara Universitas Gadjah Mada (UGM) ditunjuk sebagai salah satu institusi yang mengembangkan Vaksin Merah Putih dengan menggunakan platform DNA protein rekombinan.
Bambang Brodjonegoro menyebut vaksin Merah Putih akan tersedia dalam jumlah besar pada triwulan tiga 2022, atau sekitar awal Agustus 2022. Vaksin tersebut diharapkan mampu memenuhi kebutuhan vaksinasi 270 juta penduduk Indonesia.