Prevalensi Sunat Perempuan di Dunia

INDEPENDEN, Jakarta – Indonesia masih mempertahankan tradisi sunat perempuan. Padahal tradisi menyakiti perempuan ini bertolak belakang dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) yang telah disepakati seratusan negara di belahan dunia, termasuk Indonesia.

Pada peringatan hari Bebas Pengrusakan Kelamin Perempuan 6 Februari lalu, Sekjen PBB, Ban Ki Moon berpesan agar sunat perempuan bisa dihapuskan pada 2030 mendatang. Sebab sunat perempuan merupakan bentuk kekerasan terhadap perempuan dan tak memiliki manfaat kesehatan.

Kebiasaan sunat perempuan dilakukan turun temurun tanpa dasar kesehatan. Perempuan yang tidak menjalankan tradisi ini biasanya dipertanyakan kekukuhan keyakinan beragamanya. Sunat perempuan lebih banyak dilakukan di negara dengan pemeluk Islam.

Berikut fakta-fakta sunat perempuan dalam infografis:

 

kali dilihat