Bagaimana AI Mengubah Jurnalisme Freelance

 

.
Yutong Liu & Digit / https://betterimagesofai.org / https://creativecommons.org/licenses/by/4.0/

Oleh Marina Adami — 10 Februari 2026

Artikel ini pertama kali dipublikasikan oleh Reuters Institute for the Study of Journalism dan diterjemahkan oleh Independen.id.

Sejumlah artikel yang diterbitkan tahun 2025 atas nama jurnalis freelance bernama Margaux Blanchard muncul di beberapa publikasi besar berbahasa Inggris — termasuk esai di Business Insider dan liputan fitur di Wired. Namun tulisan-tulisan itu tidak seperti yang terlihat: nama Margaux Blanchard itu tidak pernah ada.

Ketika seorang editor merasa curiga karena pitch terdengar aneh dan mencurigakan, akhirnya terungkap bahwa karya yang dipublikasikan kemungkinan besar dihasilkan oleh Artificial Intelegent (AI).  Satu per satu, publikasi yang memuat karya itu kemudian menghapusnya.

Beberapa bulan setelah kasus “Blanchard”, seorang calon jurnalis freelance lain juga tertangkap menggunakan AI untuk membuat pitch dan artikel yang dipublikasikan di media besar — kali ini menggunakan nama Victoria Goldiee.

Kedua kasus ini bukan hanya fenomena ekstrem. Semua kasus ini mengajukan pertanyaan serius tentang cara sistem freelance bekerja selama ini, yang sangat bergantung pada kepercayaan: bahwa jurnalis adalah siapa yang mereka klaim, dan bahwa mereka benar-benar menulis karya itu sendiri.

Bagaimana para  commissioning editor* menavigasi lingkungan kerja di mana siapa pun dapat menciptakan alter ego berbasis AI dan menghasilkan artikel hanya dengan satu perintah? Di sisi lain, bagaimana kemudahan pembuatan teks dan gambar memengaruhi para jurnalis freelance itu sendiri?

Dengan pertanyaan-pertanyaan tersebut, saya membuka panggilan terbuka kepada audiens kami, berharap mendengar langsung dari para jurnalis freelance dan commissioning editor tentang bagaimana aktivitas sehari-hari mereka berubah akibat kehadiran AI generatif.

Sebanyak 45 jurnalis freelance dan commissioning editor merespons.

Respons yang saya terima cukup mengejutkan. Lebih banyak freelancer dari yang saya perkirakan  mengatakan bahwa AI generatif membantu mereka menjadi lebih terorganisir dan lebih efisien. Tentu saja masih ada pihak yang skeptis. Namun secara keseluruhan, gambaran yang muncul adalah sebuah industri yang perlahan mulai mengadopsi AI generatif, meski dengan kehati-hatian dan berbagai catatan penting.

Pekerjaan Freelance Berubah, Bukan Menghilang

Tidak ada kesepakatan yang jelas mengenai apakah jumlah pendapatan meningkat atau menurun sejak AI generatif menjadi populer.

Sebagian jurnalis freelance yang saya dengar mengaitkan penurunan pekerjaan dengan kehadiran AI, sementara yang lain mengatakan mereka justru menerima lebih banyak komisi karena meningkatnya penggunaan AI. Ada pula yang tidak percaya bahwa penurunan pendapatan yang mereka alami disebabkan oleh AI, dan sebagian lainnya menyatakan tidak ada perubahan sama sekali.

Banyak freelancer menggunakan AI untuk mengorganisasi dan mempercepat alur kerja mereka, termasuk untuk riset, perencanaan, transkripsi, dan dalam beberapa kasus, penyusunan draf artikel. Sejumlah responden bahkan menyatakan antusias terhadap peluang baru yang ditawarkan oleh AI generatif.

“Kehadiran alat seperti ChatGPT secara drastis mengurangi waktu tunggu antara satu cerita dan cerita berikutnya. Dalam posisi saya, saya bertanggung jawab menulis berita selama konferensi pers pagi Presiden Meksiko, Claudia Sheinbaum, dan kemampuan untuk menangani proses tersebut secara real time menjadi luar biasa dengan dukungan seperti AI,” ujar Jesús García Rodríguez, editor digital freelance yang menulis untuk media Meksiko El Mañana.

“Bagi saya, ini membuka dunia peluang yang benar-benar baru,” tulis Ulrike Langer, jurnalis inovasi media. Peluang tersebut mencakup menulis tentang AI generatif, memanfaatkannya untuk menjelajah bidang baru seperti pemrograman, serta menggunakannya sebagai asisten riset dan penyuntingan pribadi untuk meningkatkan efisiensi dan produktivitas.

Efisiensi disebut oleh banyak jurnalis sebagai manfaat utama bagi pekerjaan mereka.

“Kecepatan saya dalam mengajukan pitch meningkat, dan pitch tersebut menjadi lebih ringkas serta menarik. Hal ini membuat editor memilihnya lebih cepat,” kata Robert Amalemba, penulis freelance yang berbasis di Kenya.

Dalam sejumlah kasus, para freelancer mengatakan bahwa dengan otomatisasi sebagian pekerjaan teknis memungkinkan mereka untuk lebih fokus pada keputusan editorial dan pemikiran strategis.

“Kini AI menjadi bagian dari alur kerja harian saya untuk riset, menyusun ide, dan membuat draf awal, sehingga saya bisa lebih fokus pada analisis, penilaian editorial, dan keputusan naratif. Produktivitas meningkat, seiring dengan meningkatnya ekspektasi terhadap kecepatan kerja,” ujar Alvaro Liuzzi, jurnalis freelance asal Argentina, sekaligus konsultan media, dan trainer.

Sebuah survei terhadap jurnalis di Inggris — baik freelance maupun staf — menemukan bahwa lebih banyak jurnalis menggunakan AI untuk tahap awal pengumpulan berita dibandingkan tahapan lain dalam proses produksi berita. Untuk tugas-tugas individual, penggunaan AI paling umum adalah untuk transkripsi dan penulisan keterangan, penerjemahan, serta pemeriksaan tata bahasa — yang semuanya sebenarnya bukan area baru dalam otomatisasi.

Hasil riset itu bisa diakses di sini https://reutersinstitute.politics.ox.ac.uk/ai-adoption-uk-journalists-and-their-newsrooms-surveying-applications-approaches-and-attitudes#header--1

Namun, karena survei ini dilakukan antara Agustus hingga November 2024, dan AI terus berkembang dengan sangat cepat sejak saat itu, gambaran keseluruhan situasinya bisa saja berbeda pada hari ini.

Verifikasi Menjadi Semakin Penting

Penggunaan AI generatif yang semakin luas juga memperkuat pentingnya verifikasi untuk memeriksa halusinasi dan kesalahan lain dalam output AI. Namun, keharusan menyisir kembali hasil kerja yang dihasilkan AI untuk mencari kemungkinan kesalahan terkadang justru meniadakan penghematan waktu yang sejak awal ingin dicapai melalui otomatisasi.

Jurnalis freelance Sophie Mangado, yang berbasis di Kanada, menulis bahwa ia sesekali menggunakan AI untuk menghemat waktu dalam riset. “Konsekuensinya adalah saya harus memeriksa ulang setiap hasil dari AI generatif, dan itu memakan waktu,” ujarnya.

“Saya hanya menggunakannya untuk topik yang benar-benar saya kuasai, dan bahkan dalam kasus tersebut saya tetap melakukan pengecekan ulang,” tulis Elisa Gestri, jurnalis freelance dan pewarta foto, yang mengkhawatirkan keandalan output AI setelah menemukan sejumlah kesalahan.

Bagi sebuah profesi yang bertumpu pada akurasi—dan di mana mempertahankan kepercayaan audiens sudah menjadi tantangan tersendiri—sejumlah freelancer menyuarakan kekhawatiran bahwa ketergantungan berlebihan pada AI dapat mendorong jalan pintas yang merugikan.

“Teknologi ini sedang membentuk ulang proses riset yang seharusnya dilakukan dengan kehati-hatian. Beberapa media dan klien berasumsi bahwa ‘semuanya jadi lebih cepat’ lalu mendorong tenggat waktu yang lebih singkat atau bayaran yang lebih rendah, tanpa membedakan antara tugas mekanis dan kerja intelektual yang mendalam. Ini merendahkan profesi dan berisiko menghasilkan ketidakakuratan. Hal paling berbahaya adalah godaan untuk memproduksi konten ‘murah’ tanpa peliputan atau verifikasi yang solid. Itu yang paling saya khawatirkan,” tulis Hassel Fallas, jurnalis dan editor freelance yang berbasis di Kosta Rika.

Bagaimana Mendeteksi Penipu

Salah satu risiko yang dihadapi commissioning editor adalah kemungkinan banjir pitch hasil AI yang menyumbat kotak masuk mereka, sehingga semakin sulit memilah dan menemukan cerita yang benar-benar bagus.

Skenario terburuknya adalah tertipu oleh penipu berbasis AI.

Nicholas Hune-Brown, editor eksekutif di media nonprofit The Local yang berbasis di Toronto, adalah orang yang mengungkap bahwa Victoria Goldiee berbohong tentang karyanya.

Ia mulai curiga setelah pitch yang dikirim Goldiee terasa terlalu sempurna. Goldiee juga mengklaim telah melakukan banyak pekerjaan dasar untuk artikel yang ia ajukan, sesuatu yang menurut Hune-Brown terasa janggal.

Hune-Brown lalu mencari nama Goldiee di Google dan menemukan beragam artikel terbaru yang diklaim ditulisnya untuk berbagai publikasi berbeda, termasuk Architectural Digest dan Journal of the Law Society of Scotland. Karyanya memberi kesan bahwa ia tinggal di Amerika Serikat atau Inggris, padahal The Local adalah media berbasis di Toronto.

Hune-Brown menggali lebih jauh dengan menghubungi orang-orang yang diklaim Goldiee telah ia wawancarai. Ia menemukan bahwa artikel-artikelnya memuat kutipan dari pakar nyata yang tidak ingat pernah berbicara dengannya, atau dari “pakar” yang ternyata tidak pernah ada.

Ketika ia mengonfrontasi Goldiee lewat panggilan telepon, suara di seberang langsung menutup sambungan. Setelah itu, Goldiee berhenti membalas emailnya.

“Pengalaman ini benar-benar mengubah cara kami bekerja,” kata Hune-Brown kepada saya. The Local kini menerapkan proses pemeriksaan fakta yang lebih ketat, termasuk meminta penulis menyerahkan draf beranotasi sebagai bukti bahwa merekalah yang benar-benar menulis artikel tersebut.

Langkah verifikasi tambahan ini juga disebut oleh salah satu freelancer yang menghubungi kami untuk berbagi pengalamannya.

Chris Sutcliffe mengatakan bahwa ia kini menawarkan editor akses ke riwayat versi Google Docs miliknya sebagai bukti bahwa ia menulis sendiri karyanya. Ia percaya langkah ini membantunya mendapatkan pekerjaan. “Sekadar menawarkan bukti karya orisinal tampaknya sudah menjadi nilai jual dalam jurnalisme freelance,” ujarnya.

Meningkatnya sikap skeptis dari editor berpotensi menciptakan hambatan tambahan bagi jurnalis muda atau mereka yang baru masuk ke dunia ini, karena editor kini melihat lebih jauh dari sekadar pitch—misalnya menelusuri byline atau jejaring kontak penulis—sebelum memberikan penugasan.

“Saya tidak terlalu khawatir tentang artikel yang sepenuhnya palsu bisa lolos ke halaman kami,” kata Hune-Brown, merujuk pada proses verifikasi di medianya. Namun ia juga khawatir tentang bagaimana memenuhi mandat The Local untuk bekerja dengan suara-suara baru.

“Saya tidak yakin proses terbaik untuk melakukan itu di saat kita tidak bisa lagi mengasumsikan adanya hubungan antara kata-kata dalam sebuah pitch dengan orang yang mengirimkannya,” ujarnya.

Kekhawatiran soal apakah keahlian yang tampak dalam pitch yang ditulis dengan baik bisa dipercaya juga disampaikan oleh commissioning editor lain yang berbagi pengalaman mereka. Hambatan masuk kini menjadi lebih rendah, karena AI generatif membuat semua orang terdengar seperti ahli.

Untuk sementara, Hune-Brown hanya bekerja dengan penulis yang sudah ia kenal. “Saya belum membuka lagi panggilan pitch publik,” katanya, “karena saya tidak ingin harus menyaring puluhan pitch yang dihasilkan AI.”

Apakah AI Akan Menggantikan Kita?

Banyak freelancer mengatakan mereka menggunakan AI generatif untuk membantu pekerjaan mereka. Namun, ada pula kelompok yang memandangnya sebagai ancaman terhadap keamanan pekerjaan atau sebagai sesuatu yang tidak sejalan dengan nilai-nilai jurnalisme.

“Saya melihat banyak teks generatif di portal berita, dan itu membuat saya merasakan dua hal: kesedihan terhadap rekan-rekan yang dipaksa bekerja lebih cepat dari Twitter (yang mustahil), dan kejenuhan karena hal itu kini menjadi norma. Saya bukan penggemar AI dalam ilmu humaniora,” tulis Emil Čančar, penulis freelance yang mengatakan bahwa ia hanya menggunakan ChatGPT sebagai mesin pencari tingkat lanjut—jika pun ia menggunakannya.

Justine Pilmis, ilustrator freelance asal Inggris, mengatakan bahwa ia mendapatkan semakin sedikit peluang kerja karena AI. “Secara bertahap, saya melihat klien-klien tetap mulai memposting konten yang dihasilkan AI alih-alih mempekerjakan ilustrator,” tulisnya.

Ia juga semakin sering melihat klien meminta dirinya menggunakan gambar hasil AI sebagai referensi ilustrasi.

“Ini menghambat proses kreatif saya karena saya harus berkarya berdasarkan gaya yang sudah ditentukan, padahal sebelumnya prosesnya berupa diskusi antara klien dan saya, sering kali dengan moodboard. Beberapa bulan lalu, saya diminta seorang penulis untuk mendesain sampul bukunya berdasarkan gambar AI yang ia buat; mereka ingin sampulnya sedekat mungkin dengan gaya AI tersebut, sehingga saya menghabiskan berjam-jam belajar menggambar seperti AI,” katanya.

Menurut sebuah laporan yang diterbitkan pada Januari, sepertiga ilustrator di Inggris dan 58% fotografer melaporkan kehilangan komisi dan pembatalan proyek akibat AI generatif.

Beberapa penulis yang merespons panggilan terbuka kami juga menyampaikan kekhawatiran bahwa AI generatif dapat menggantikan pekerjaan mereka.

“Publikasi menugaskan lebih sedikit artikel, memangkas tarif, atau membatalkan kontrak berulang karena penurunan pageview—karena pembaca beralih ke AI, bukan ke media, untuk mendapatkan informasi. Saya sejauh ini masih mempertahankan pekerjaan, tetapi dengan tarif yang menurun, ketidakstabilan yang lebih besar, ancaman pemotongan lebih lanjut di masa depan, dan tuntutan kerja yang jauh lebih berat per penugasan,” tulis Sarah Scoles, jurnalis sains freelance yang berbasis di Amerika Serikat.

“Dalam kasus saya, ini sulit untuk diterima; saya merasa ini adalah pengkhianatan terhadap intelektualitas saya. Dengan menggunakan AI generatif, saya justru membantu menormalkan sesuatu yang kelak bisa membuat saya kehilangan pekerjaan,” tulis Adriana Cruz Toledo, penulis freelance yang berbasis di Meksiko.

Laporan Reuters Institute tentang penggunaan AI oleh jurnalis di Inggris menemukan bahwa jauh lebih banyak jurnalis memandang AI sebagai ancaman besar bagi jurnalisme dibandingkan sebagai peluang besar. Meski demikian, 45% responden mengatakan mereka melihat AI sebagai peluang, setidaknya sampai tingkat tertentu.

Meskipun tidak ada konsensus umum mengenai dampak AI generatif terhadap jumlah komisi yang diterima para freelancer yang menghubungi kami, dan banyak dari mereka memuji dampak teknologi ini terhadap efisiensi kerja, sejumlah responden juga menekankan pentingnya peran manusia.

Hal ini terutama disampaikan dalam kaitannya dengan verifikasi, penilaian editorial, dan etika.

Editor freelance asal Argentina, Eric Facundo Fernández, mengatakan, “Tidak dapat diterima jika tidak ada penulis manusia di balik karya yang dihasilkan [AI generatif], baik sebagai pengawas versi akhir artikel maupun dalam bentuk keterlibatan manusia apa pun dalam proses tersebut.”

“Alih-alih menggantikan peran saya, AI generatif justru memperkuat nilai tanggung jawab editorial manusia,” kata Liuzzi.

 

===

 

Tulisan ini merupakan terjemahan yang disadur dari https://reutersinstitute.politics.ox.ac.uk/news/speed-hoaxes-and-mistrust-how-ai-transforming-freelance-journalism.

 

 

 

*Dalam dunia penerbitan, commissioning editor adalah editor yang bertanggung jawab mencari, memilih, dan mengakuisisi naskah atau penulis baru untuk diterbitkan. Peran ini sering juga disebut sebagai acquisitions editor.

kali dilihat