Oleh : Diky Zulkarnen dan Firdaus
INDEPENDEN -- Kamis, 25 Desember 2025 pagi, ratusan massa di Pidie, menunggu kedatangan warga Aceh Besar, Geumpang, dan Banda Aceh di Masjid Baitul A'la Lilmujahidin atau Masjid Abu Beureueh Beureunuen, Pidie.
Di Masjid Abu Beureueh ini, warga saling berbagi Bendera Bulan Bintang. Tiang-tiang bendera juga sudah disiapkan di halaman masjid tersebut. Pekikan 'Aceh Merdeka' dan 'Indonesia penjajah' saling bersahutan.
Ratusan massa di pekarangan masjid ini juga menunggu kedatangan ketua rombongan yang sedang menuju masjid tersebut dari Tangse, Pidie, Azilul Nazirna Tiro, 23 tahun.
Kapolres Pidie, AKBP Jaka Mulyana, sempat berdialog dengan Azilul begitu ia sampai di masjid dan meminta massa tidak berkonvoi dengan membawa Bendera Bulan Bintang, tapi massa tak menggubris hal itu.
Azilul adalah mahasiswa Jurusan Ilmu Pemerintahan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Syiah Kuala.
Pada pukul 11.00 WIB, dari Masjid Abu Beureueh, rombongan ini bergerak melintasi Jalan Banda Aceh-Medan melewati Kota Meureudu, Pidie Jaya.
M. Yacob Tailah, 71 tahun, yang berada di barisan konvoi paling depan, mengatakan rombongan ini pertama kali dihadang di Matang Glumpang Dua, Bireun.
Kata dia, polisi dan tentara mula-mula tidak mau membuka jalan yang diblokade dengan plang-plang razia. “Tapi saat itu ada massa yang mulai turun dari mobil, dan jalan pun dibuka,” kata pelantun lagu Referendum itu, Sabtu, 27 Desember 2025.
M Yacob Tailah, yang berasal dari Gampong Kambuek, Kecamatan Jangka, Bireun, juga bergerak bersama massa rombongan dari Masjid Abu Beureueh Beureunuen. Hari itu, Yacob duduk di dalam mobil Toyota Land Cruiser bersama Koordinator atau Ketua Rombongan Kemanusiaan dan Konvoi Bendera Bulan Bintang, Azilul Nazirna Tiro.
“Rombongan mulanya diminta masuk ke dalam SPBU. Ada pemeriksaan,” kata Azilul Nazirna Tiro. “Saya katakan pada polisi dan tentara di sana ada ribuan orang di dalam ratusan mobil di belakang. Takutnya SPBU ini diamuk nanti.”

Dalam perjalanan, massa terus bertambah setelah warga Pidie Jaya, Batee Iliek dan Matang, Kabupaten Bireun, ikut bergabung dalam rombongan tersebut.
Rombongan ini tertahan cukup lama di Jembatan Awe Geutah karena antrean panjang di jambatan darurat ini.
Di seberang jembatan Kuta Blang, kata Yacob, ia melihat truk-truk reo dari arah Banda Aceh atau dari arah barat melewati rombongan tersebut.
“Rupanya truk-truk tersebut akan menghadang kami di Lhokseumawe,” kata Yacob Tailah.
Helmi Husen, 60 tahun, warga Gampong Meunjee, Kecamatan Glumpang Tiga, Pidie, yang pada sore itu berdiri di atas Jembatan Krueng Mane, Aceh Utara, menceritakan bahwa sekitar pukul 18.00 WIB, empat truk reo Brimob berjajar di atas jembatan itu.
Kata Helmi, personel Brimob yang pada sore itu berdiri di atas jembatan tersebut berasal dari Kompi 1 Batalyon B Pelopor Satbrimob Polda Aceh yang bermaskas di Jalan Elak, Kota Lhokseumawe.
Hari itu, Helmi dan tujuh rekannya berangkat dari Pidie dengan mobil Toyota Avanza. Sambil menunggu rombongan di belakang, mereka singgah dan makan di Geurugok, Kecamatan Gandapura, Bireun.

Kata Helmi lagi, selepas Magrib, sekitar empat truk tentara bersenjatakan M-16 tiba di Jembatan Krueng Mane. “Di truk-truk reo tentara tertulis Kompi B,” kata Helmi.
Beberapa saat kemudian, usai rombongan masyarakat yang hendak mengantarkan bantuan ke Aceh Tamiang menunaikan salat Isya di Masjid Kuta Blang, mereka melanjutkan perjalanan, tapi begitu mereka tiba di Jembatan Krueng Mane, mereka sudah dihadang truk intercooler yang parkir di tengah-tengah badan jalan di atas jembatan.
“Lampu-lampu truk reo tiba-tiba dipadamkan. Lebih seratus tentara lalu merampas Bendera Bulan Bintang dan menyerang siapa pun yang tak mau menyerahkan Bendera Bulan Bintang secara membabi buta,” kata Helmi.
Helmi juga ikut terkena pukulan tentara. “Saat itu, saya melihat mobil pikap yang memuat sekitar 100 karung beras 15 kilogram melaju ke jalan rel lalu belok ke kanan dari tugu di sana. Ke arah Kompi Brimob. Saya tidak bisa pastikan apakah mobil tersebut bergerak ke Kompi Brimob atau Kompi tentara. Tapi Kompi yang ada di jalan rel ya Kompi Brimob. Intinya, begitu mobil pikap itu keluar dari sana, beras sudah kosong di bak terbuka mobil itu,” ujar Helmi Husen.
Koordintaor Rombongan Kemanusiaan dan Konvoi Bendera Bulan Bintang, Azilul Nazirna Tiro, mengatakan dua ekor kambing yang dibawa rombongan dari Geumpang juga lenyap yang berbekas.
“Total ada tiga ekor kambing dari Geumpang. Satu sudah disembelih dan sudah dimasukkan ke dalam fiber, sementara dua ekor kambing lainnya belum disembelih. Dua ekor itu yang hilang. Yang dalam fiber selamat. Rencananya tiga ekor kambing itu akan dikonsumsi rombongan dalam perjalan mengantar bantuan,” katanya.
Bantuan yang hendak disalurkan ke Aceh Timur dan Aceh Tamiang, antara lain dua ton beras, dua dump truck pakaian baru, 600 dus air mineral, dua pikap L-300 snack atau makanan ringan, 1.000 kaleng sarden, 300 kilogram obat-obatan, 30 kotak pampers, dan uang tunai senilai Rp 30 juta.
Selain itu, ada pula sayur-sayuran, minyak goreng, selimut, karpet, terpal, kelambu, mukena, sajadah, dan Al Quran yang akan dibagikan untuk korban-korban banjir bandang di dua kabupaten tersebut.
“Saat penghadangan di Jembatan Krueng Mane, banyak barang bantuan, seperti beras, snack dan air mineral hilang entah dirampas atau dijarah. Dus-dus air mineral dirobek-robek. Tidak hanya bendera, baju, peci, dan kopiah yang memuat gambar bulan bintang juga diambil. Kalau baju yang melekat di badan, langsung dirobek di tempat. Bahkan ada satu rekan saya, baju yang melekat di badannya, dirobek dengan pisau. Untung dia tidak terluka,” kata Azilul.

M Yacob Thailah menyebutkan bahwa topi berlogo buraq dan singa yang ia kenakan juga sempat dirampas aparat. “Tapi ada tentara yang mengenal saya sebagai penyanyi Aceh. Saya katakan, kembalikan topi saya karena topi itu adalah hadiah dan kenang-kenangan dari kawan saya di Amerika,” kata pelantun lagu Bidan Langsa, itu. “Topi saya lalu dikembalikan.”
Azilul menyebutkan ada sedikitnya delapan relawan yang mengalami luka berat akibat dianiaya anggota TNI dan Polri di Jembatan Krueng Mane.
“Mereka berasal dari Pidie, Aceh Utara, dan Banda Aceh,” kata Azilul. “Brimob juga ikut memukuli massa. Mereka juga membawa senjata laras panjang. Bahkan intel-intel yang berpakaian sipil juga ikut memukuli massa dengan kayu. Kapolres Aceh Utara memang terkena pukulan di bibir oleh massa. Salah dia sendiri, masak seorang Kapolres memukul warga duluan.”
Nasruddin A Wahab, 48 tahun, warga Gampong Lancang, Kecamatan Kembang Tanjong, Pidie, adalah salah satu korban penganiayaan yang mengalami luka berat.
Sabtu, 27 Desember 2025, kepala Nasruddin masih terbalut perban. Wajahnya juga masih memar.
Nasruddin bercerita bahwa mulanya ia turun dari mobil yang ia tumpangi saat tentara mulai memukuli relawan. Tanpa ba-bi-bu, segerombolan serdadu bersenjatakan laras panjang M-16 meninju, menendang, dan menghantamkan popor M-16 ke kepala Nasruddin hingga kepalanya berdarah.
"Ada rekan yang meminta saya berdiri sebentar di atas jembatan untuk diambil video dokumentasi," kata Nasruddin.
Nasruddin kemudian dibawa ke Puskesmas Gandapura, Bireun. Namun, karena luka di kepalanya cukup parah, tenaga kesehatan di puskesmas tersebut ingin merujuknya ke RSUD dr Fauziah Bireun, tapi Nasruddin berkata bahwa ia akan pergi dengan rekan-rekannya ke rumah sakit milik Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bireun itu. “Di rumah sakit itu, saya menerima 27 jahitan di kepala. Perawat di rumah sakit itu meminta saya untuk dirawat inap, tapi saya menolak dan langsung pulang,” katanya, yang ditemui sinarpidie.co di rumahnya di Gampong Lancang, Kecamatan Kembang Tanjong, Pidie, Sabtu, 27 Desember 2025.
Di tempat yang berbeda, Kamis, 25 Desember 2025 siang, massa di Simpang Kandang, Lhokseumawe, telah terlebih dahulu dibubarkan anggota TNI bersenjatakan M-16. Dalam pembubaran yang dipimpin Danrem 011/Lilawangsa, Kolonel Ali Imran, anggota TNI juga merampas Bendera Bulan Bintang secara paksa.
“Massa di Simpang Kandang adalah bagian dari massa aksi yang menunggu kami di sana lalu akan melanjutkan perjalanan bersama rombongan ke Aceh Timur dan Tamiang,” kata Azilul.
Azilul menyebut ada pihak yang sengaja menyusupkan pria yang membawa senjata api dan senjata tajam ke dalam rombongan di Simpang Kandang. “Kami tidak mengenal pria yang membawa senjata api itu,” sebut Azilul.
Membuat video klarifikasi di bawah tekanan
Azilul mengatakan bahwa di bawah ancaman dan tekanan, Kamis, 25 Desember 2025 malam, ia dipaksa membuat video klarikasi.
“Handphone saya sempat dirampas,” tuturnya. "Saya membuat video tersebut setelah berembuk dengan orang-orang tua dalam rombongan. Kata mereka, dalam agama Islam, saat darurat dan terdesak, tidak apa-apa makan babi sekali."
Dalam video yang beredar di pelbagai media sosial, Azilul menyebut penganiayaan yang dilakukan aparat TNI/Polri di Jembatan Krueng Mane adalah kesalahpahaman dan permasalahan tersebut telah selesai.
Pernyataan Azilul dalam video itulah yang digunakan Pusat Penerangan (Puspen) TNI dalam siaran-siaran pers: “Koordinator lapangan aksi menyatakan peristiwa tersebut terjadi akibat selisih paham dan telah disepakati penyelesaian secara damai dengan aparat.”
Kata Azilul lagi, Jumat, 26 Desember 2025 pagi, tanpa membawa lagi Bendera Bulan Bintang, bantuan-bantuan kemanusiaan yang tersisa berhasil mereka salurkan dengan membagi relawan dalam kelompok-kelompok kecil.
“Bantuan-bantuan itu sampai ke Aceh Timur dan Aceh Tamiang walaupun sudah kurang sempurna,” kata Azilul. “Di Pidie Jaya, Bireun, dan Aceh Utara, bantuan-bantuan tersebut juga ada kami bagikan.”
Azilul mendesak pelaku-pelaku penganiayaan secara bersama-sama di muka umum terhadap masyarakat sipil dalam rombongan konvoi di Jembatan Krueng Mane diproses secara hukum.
“Pada Selasa, 30 Desember 2025, kami, mahasiswa, juga akan menggelar demo dengan salah satu tuntutan, yaitu copot Ali Imran sebagai Danrem Lilawangsa,” ujar Azilul. “Dialah yang memerintahkan dilakukannya kekerasan terhadap kami.”
Bencana internasional
Yahdi Ilar Rusydi, 51 tahun, mengatakan bencana ekologis yang terjadi di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat adalah bencana dunia. “Sebab, yang dirusak di Pulau Sumatra ini, termasuk di Kawasan Ekosistem Lauser, adalah paru-paru dunia,” kata dia, Sabtu, 27 Desember 2025. “Jadi ini bukan bencana daerah dan bukan bencana nasional.”
Ia melanjutkan, ketika paru-paru dunia sudah rusak, bukan Aceh dan Indonesia saja yang rusak, melainkan lautan beku di kutub utara dan kutub selatan pun bisa cair.
Mengenai pengibaran bendera Bulan Bintang dalam konvoi rombongan yang hendak membawa bantuan kemanusiaan ke Aceh Timur dan Aceh Tamiang, warga Panton Labu, Aceh Utara, ini, mengatakan, “Mengapa tidak ada orang yang dipukuli saat bendera Bulan Bintang berkibar dalam kampanye-kampanye Pilkada? Tapi mengapa ketika masyarakat membawa bendera tersebut saat mengantarkan bantuan kemanusiaan, mereka justru dipukuli?”
Sejak 2005 lalu, sebut dia, Gerakan Aceh Merdeka (GAM) telah bertransformasi menjadi Komite Peralihan Aceh atau KPA. “Tidak ada lagi GAM hari ini. Jadi, anggota KPA pun sudah menjadi masyarakat biasa. Masyarakat sipil,” tuturnya.
Reporter: Diky Zulkarnen dan Firdaus
==
CATATAN EDITOR : Tulisan ini direpublikasi dari media sinarpidie.co pada 3 Januari 2026. Berita asli bisa diakses di https://sinarpidie.co/news/malam-jahanam-di-jembatan-krueng-mane/index.html