INDEPENDEN-- Selasa, 25 November 2025, sekitar pukul 21.00 WIB, Nurmawati, 58 tahun, warga Gampong Blang Awe, Kecamatan Meureudu, Pidie Jaya, dibangunkan oleh menantunya, Anwar, 30 tahun.
“Mak,” kata Anwar pada Nurmawati, “air sungai sudah naik ke kamar mandi.”
Mendengar hal itu, Nurmawati bergegas mengemas beberapa helai pakaian. Malam itu, di tepi sungai yang hanya berjarak sepelemparan batu dari rumah ibu lima anak itu, beberapa warga Gampong Blang Awe, termasuk anak-anak muda, sedang memantau ketinggian air sungai.
“Sebelumnya, saat masih Magrib, air sudah memenuhi sungai tapi belum meluap ke rumah warga. Saya sempat berdiri di jalan di depan rumah untuk melihat kondisi air di sungai bersama warga lainnya,” kata Nurmawati, Rabu, 3 Desember 2025.
Menantu Nurmawati, Anwar, menuntun istrinya, Rahmianti, 27 tahun, yang menggendong anaknya yang berusia dua tahun, dan ayah mertuanya, Abdul Mutaleb, 74 tahun, ke sebuah rumah adat Aceh yang letaknya satu selang rumah di sebelah rumah mereka. Pemilik rumah adat Aceh itu masih memiliki hubungan kekerabatan dengan Nurmawati.
Menantu Nurmawati, Anwar, juga memarkir dua sepeda motor— Honda Beat hitam dan Yamaha Filano merah jambu— di pekarangan Masjid Baitul Maqfirah yang terletak di belakang rumah. Pekarangan masjid tersebut termasuk tinggi dibandingkan bangunan-bangunan lainnya di sana.
“Awalnya, seperti banjir yang sudah-sudah, kami pikir di masjid akan aman, tapi ternyata air tidak naik dari sungai di samping rumah tapi lewat belakang kampung di sebelah barat,” sebut Nurmawati.

Pada tahun-tahun sebelumnya, sungai yang melintasi Gampong Blang Awe memang sering meluap.
“Tapi banjir-banjir sebelumnya tidak pernah membawa lumpur sebanyak ini, tidak pernah setinggi ini, dan tidak pernah membawa kayu begitu besar dan begitu banyak seperti banjir kali ini,” kata Nurmawati. “Sebelumnya, air sungai yang masuk ke rumah paling setinggi pinggang.”
Gampong Blang Awe adalah gampong terluas di Kecamatan Meureudu, Pidie Jaya. Dengan luas sekitar 14,81 km2, gampong ini terbagi dalam tiga dusun, yaitu Dusun Baroh, Dusun Tengoh, Dusun Tunong.

Di sebelah timur, gampong ini berbatasan langsung dengan sungai— lintasan atau Daerah Aliran Sungai (DAS) Krueng Meureudu. Di seberang sungai, ada Gampong Seunong, Kecamatan Meurah Dua. Di sebelah barat, Gampong Blang Awe berbatasan dengan Gampong Rungkom, di sebelah selatan berbatasan dengan Geumpang, Pidie, dan di sebelah utara berbatasan dengan Gampong Manyang Lancok.
Belum sempat Nurmawati membawa bungkusan pakaian, dari pintu belakang, air sungai masuk ke dalam rumah dengan begitu cepat. “Saat itu, saya sempat berteriak pada anak muda yang masih berada di dekat rumah saya agar mereka mengambil bungkusan pakaian saya, tapi hal itu tidak memungkinkan lagi mereka lakukan,” kata Nurmawati.
Nurmawati juga tak mampu lagi mencapai rumah adat Aceh milik kerabatnya, tempat suami, anak, dan cucunya dievakuasi saat itu karena laju air semakin deras. Ia lantas menyelamatkan diri dengan masuk ke dalam rumah panggung yang terletak tepat di samping rumahnya. “Rumah panggung itu juga milik kerabat saya yang lain,” kata Nurmawati. “Sementara, menantu saya saat itu menyelamatkan diri di masjid.”
Dari lantai atas rumah rumah panggung, Nurmawati melihat tembok pagar rumah salah satu kerabatnya hanyut dibawa arus.
Gelondongan kayu yang dibawa air sungai menghantam rumah panggung tempat Nurmawati berada hingga rumah itu bergunjang-gunjang. Tangga rumah itu hanyut terseret arus.
Di rumah panggung itu, Nurma berdiri di ruang tamu di lantai atas bersama dengan dua perempuan lainnya, yaitu Zuraida, 63 tahun, dan Fitri, 35 tahun.
"Di dalam rumah, tinggi air selutut saya,” kata Nurmawati.
Di dalam rumah panggung, ketiganya berteriak minta tolong sambil berpegangan erat pada dinding karena rumah tersebut sudah mulai doyong ke depan. “Suara hantaman kayu yang besar membuat kami sangat takut. Untung saja saat rumah panggung terseret arus sekitar tiga meter, rumah itu tertahan dengan rumah beton lain di depan," kata dia. "Menantu saya, Anwar, tidak bisa balik lagi ke rumah sebab air makin tinggi dan tajam dia naik keatas atap masjid untuk menyelamatkan diri."
Rabu, sekitar pukul 02.00 WIB, air sungai dan batang-batang pohon yang lebih besar meluncur ke pemukiman penduduk di Gampong Blang Awe dengan lebih deras. Tak terkecuali rumah Numawati. Ketinggian air mencapai 2,5 meter.

RUMAH YANG DITEMPATI NURMAWATI, suaminya Abdul Mutaleb, anaknya Rahmianti, menantunya Anwar, dan cucunya yang berusia dua tahun adalah sebuah rumah berkonstruksi beton yang berukuran 13 x 11 meter, berkelir kuning, dan memiliki empat kamar.
Pada pukul 06.00 WIB, air sungai yang merangsek ke pemukiman penduduk di Gampong Blang Awe mulai surut.
Pada pukul 08.00 WIB, anak-anak muda gampong setempat, termasuk kepala desa atau keuchik, Masyukur, mengevakuasi warga yang terjebak di dalam banjir. Pagi itu air masih cukup deras. Ketinggiannya sedada orang dewasa. “Mereka mengikat tali, dan kami berpegangan pada tali itu,” ujar Nurmawati.
Dua sepeda motornya— Honda Beat dan Yamaha Filano— yang parkir di halaman masjid ikut terseret arus sungai. Sampai saat ini, dua motor tersebut belum ditemukan.
Lumpur menimbun rumah Nurmawati setinggi satu meter lebih. “Sampai sekarang kami belum bisa masuk ke dalam rumah,” ujar Nurmawati.
Dari tujuh tiang penyangga rumah panggung kerabat Nurma, hanya tiga tiang yang tersisa.

Di Gampong Blang Awe, Kecamatan Meureudu, Pidie Jaya, banjir bandang merenggut nyawa satu warga dan menyebabkan 29 rumah warga serta 19 kedai lenyap terseret arus.
Sedikitnya 194 unit rumah warga rusak berat dan tujuh rumah rusak sedang.
DI TEMPAT YANG BERBEDA, Selasa, 25 November 2025, pada pukul 21.00 WIB, di Gampong Meunasah Mancang, Kecamatan Meurah Dua, Pidie Jaya, sekitar tujuh kilometer dari Gampong Blang Awe, M Yusuf, 57 tahun, warga Gampong Meunasah Mancang, sedang mengangkat barang-barang di dapur di dalam rumahnya ke tempat yang lebih tinggi— masih di dalam rumah yang sama. Malam itu, M Yusuf berada di rumah berkonstruksi beton yang berukuran 8 x 16 meter itu bersama istrinya, Nurlina, 56 tahun, dua anaknya, dan seorang keponakannya.
Pada detik-detik itu, M Yusuf memperkirakan air sungai akan meluap hanya setinggi pinggang seperti tahun-tahun yang sudah-sudah. Tapi perkiraannya itu salah. Kelak, ia harus meringkuk di atas loteng selama dua malam karena banjir pada malam itu adalah banjir bandang yang membuat rumahnya dikepung kayu-kayu, digenangi lumpur setinggi satu meter lebih, dan mengubah pekarangan rumahnya menjadi anak sungai.

Di Pidie Jaya, Krueng Meureudu, yang mempunyai panjang 45 km dengan luas DAS sekitar 3.770 km2, membelah Kecamatan Meureudu dan Kecamatan Meurah Dua.
Gampong-gampong yang dilintasi sungai ini di Kecamatan Meureudu adalah Blang Awe, Manyang Lancok, Manyang Cut, Beurawang, Meunasah Lhok, Mesjid Tuha, Gampong Kota Meureudu, dan Gampong Meunasah Balek. Di Kecamatan Meurah Dua, sungai ini melintasi Lhok Sandeng, Gampong Sarah Mane, Seunong, Lancok, Meunasah Teungoh, Geunteng, Meunasah Bie, Meunasah Raya, Gampong Blang, Blang Cut, Dayah Kruet, Mancang, Dayah Usen, Pante Beureune, dan Gampong Meunasah Jurong.Krueng Meureudu meluap dan menggenangi semua gampong yang disebutkan itu hampir saban tahun.
“Pada saat air yang pertama naik pada pukul sembilan, saya masih sempat memindahkan gerobak sorong, dan kayu-kayu yang hanyut di pekarangan rumah masih bisa saya halau,” kata M Yusuf, Rabu, 3 Desember 2025.

Ketika malam semakin larut, kata M Yusuf, air sungai yang menerjang rumahnya semakin deras serta semakin tinggi dan membawa kayu-kayu yang panjangnya mencapai 15 meter maka ia memilih menyerah. M Yusuf, istrinya, Nurlina, dua anaknya, dan keponakannya mencapai loteng rumah dengan menggunakan tangga.
Kata M Yusuf, banjir bandang pada malam kedua— Rabu, 26 November 2025 malam hingga Kamis, 27 November 2025 dini hari— membawa banyak sekali kayu dan arusnya lebih deras daripada malam sebelumnya.
“Pondasi rumah saya termasuk tinggi. 1,3 meter. Air di dalam rumah sepinggang. Kalau di luar rumah, airnya di atas kepala,” kata M Yusuf. “Lebih kurang tiga meter ketinggian air.”
Dua hari dua malam, M Yusuf dan keluarganya terjebak di dalam rumah. “Airnya dingin sekali,” ujar M Yusuf.

Karena tak ada makanan, di tengah-tengah banjir, Yusuf sesekali turun dari loteng rumah untuk memetik buah kelapa di pekarangan rumahnya. “Kelapa muda menjadi makanan kami selama dua hari dua malam,” sebutnya.
Pemerintah mengabaikan warga yang terseret arus dan terjebak banjir bandang karena mereka bisa. Tidak ada perahu karet BPBD, BPBA, BNPB, dan tim SAR yang menjangkau Gampong Meunasah Mancang pada hari pertama dan hari kedua banjir bandang memorak-porandakan gampong itu. Nasib para warga ditentukan sesama warga gampong setempat.

Pada Kamis, 28 November 2025 siang, anak-anak muda Gampong Meunasah Mancang mengevakuasi M Yusuf dan keluarganya. Mereka dievakuasi ke meunasah atau surau gampong setempat.
Tiga motor M Yusuf tertimbun lumpur. “Honda Scoopy, Honda Beat, dan Honda Supra milik saya masih tertimbun lumpur di dalam rumah,” sebutnya.
Yusuf, yang sebelumnya bekerja sebagai sopir bus lintas provinsi, memperkirakan bahwa kayu-kayu yang hanyut bersama banjir bandang pada akhir November 2025 lalu itu merupakan kayu-kayu hasil pembukaan lahan baru. “Kalau kayu untuk balok, biasanya dipotong-potong empat meter, tapi kayu-kayu ini panjangnya 12 hingga 15 meter,” sebut Yusuf.

Yusuf, yang berdiri bersama sinarpidie.co di atas Jembatan Mancang, mengedarkan pandang dan menunjuk ke bawah— ke tumpukan kayu— sembari berkata, “Itu kemungkinan kayu bran. Itu kayu meranti yang merah-merah.”
Jembatan Mancang menghubungkan Gampong Meunasah Mancang, Kecamatan Meurah Dua dan Gampong Meunasah Lhok, Kecamatan Meureudu. Jembatan ini sebelumnya melengkung di atas sungai selebar 50 meter. Kini, sungai tersebut telah kering. Sejauh mata memandang hanya terlihat gelondongan kayu.

Yusuf berharap pemerintah segera membersihkan lumpur dan gunungan kayu di sungai, di jalan-jalan, dan di rumah-rumah warga. “Yang paling penting kayu-kayu di sepanjang Jembatan Mancang harus segera dibersihkan dan sungai Krueng Meureudu dinormalisasi agar air sungai bisa mengalir lagi ke laut. Jika tidak, air sungai tetap masuk ke gampong karena anak-anak sungai yang baru sekarang mengarah ke gampong akibat sungai sudah sumbat. Kalau ada hujan lebat dan banjir susulan, air sungai langsung mengarah ke rumah saya karena halaman rumah saya sudah menjadi anak sungai,” kata dia.

PERASAAN TAUFIK HIDAYAT, 51 TAHUN, warga Gampong Dayah Kruet, Kecamatan Meurah Dua, campur aduk setelah banjir bandang menghantam rumah tipe 36 miliknya. Di satu sisi, kerusakan yang disebabkan banjir bandang membuatnya sedih, tapi di sisi lain gunungan kayu yang hanyut dibawa arus sungai ke dalam pekarangan rumahnya, yang ia taksir bernilai Rp 200 juta lebih, membuatnya sedikit tenang sekaligus cemas. “Ada orang yang masuk ke dalam pekarangan rumah dan menandai sejumlah kayu di halaman rumah saya,” kata Taufik, Rabu, 3 Desember 2025. “Karena itu, setiap hari saya mengecek rumah. Memang mobil belum bisa masuk ke sini untuk mengangkut kayu.”
Taufik menyebut jenis-jenis kayu yang berhamburan di atas lumpur di pekarangan rumahnya yang berukuran 30 x 38 meter: damar, meranti, merbau, semantok, dan pinus. “Saya pernah bekerja di gunung, jadi saya tahu jenis-jenis kayu,” katanya. “Harga pasar, satu batang damar di rumah saya ini sekitar Rp 10 juta. Ada puluhan damar di halaman rumah saya. Ada juga pohon semantok sepanjang 25 meter. Harga pasar Rp 6 juta satu kubik. Pohon semantok itu bisa menghasilkan delapan kubik kayu. Rp 40 jutaan.”

Taufik Hidayat, 51 tahun, warga Gampong Dayah Kruet, Kecamatan Meurah Dua, berpose di depan rumahnya di gampong setempat, Rabu, 3 Desember 2025. (sinarpidie.co/Firdaus).
Kata Taufik lagi, ia menduga gelondongan kayu tersebut berasal dari praktik illegal logging dan pembukaan lahan di Blang Rawue, sebuah kawasan pegunungan yang berjarak sekitar 4-5 jam dari Kota Meureudu, Pidie Jaya. “Sumber airnya pun mungkin dari Blang Raweu,” sebut Taufik.
“Kayu ini tidak boleh diambil sembarangan, kecuali datang malaikat mengambilnya. Saya sedang musibah, jangan cari keuntungan di atas musibah saya. Kalau mau dibakar silakan, tapi bakar di depan saya,” kata ayah empat anak itu. “Masak ada orang masuk ke dapur rumah saya, buka tudung saji, lalu langsung makan. Itu tak bisa.”
Taufik berharap pemerintah, baik pemerintah kabupaten, provinsi, maupun pemerintah pusat membersihkan lumpur di pekarangan rumahnya. “Kalau di dalam rumah, kan, tidak mungkin dibersihkan pemerintah,” ujar Taufik.
Akses jalan ke Gampong Dayah Kruet masih belum bisa dilalui kendaraan, Rabu, 3 Desember 2025.
Sekitar 200 meter dari jalan masuk ke Gampong Dayah Kruet, air setinggi lutut hingga pinggang orang dewasa, masih menggenangi badan jalan, Rabu, 3 Desember 2025. Air tersebut bersumber dari puluhan alur-alur sungai baru yang mengarah ke pemukiman penduduk.
Amatan sinarpidie.co, Rabu, 3 Desember 2025, tiga eksavator sedang membersihkan jalan di Gampong Dayah Kruet. Selain di rumah-rumah warga dan kebun-kebun warga, lebih satu kilometer jalan dari Dayah Kruet menuju Jembatan Mancang penuh dengan kayu. Berjalan di gampong ini berarti berjalan di atas lumpur setinggi satu hingga dua meter yang dilapisi kayu-kayu yang hanyut.
Per Jumat, 5 Desember 2025, jumlah korban yang meninggal dunia dalam banjir bandang di Pidie Jaya tercatat 27 orang, dan 390 korban mengalami luka berat.
8.806 rumah warga yang tersebar di delapan kecamatan di Pidie Jaya mengalami rusak berat.
Ada 9.043 KK yang masih mengungsi di 66 titik pengungsian. Dua gampong di Kecamatan Meurah Dua—Gampong Meunasah Mancang dan Dayah Usen— masih terisolir.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pidie Jaya mencatat terdapat enam DAS yang meluap, yakni DAS Krueng Panteraja, DAS Krueng Beuracan, DAS Krueng Meureudu, DAS Krueng Ulim, DAS Krueng Kiran, DAS Krueng Samalanga.
Koalisi Masyarakat Sipil Peduli Bencana, yang terdiri dari Masyarakat Transparansi Aceh (MaTA), LBH Banda Aceh, AJI Banda Aceh, Yayasan Keadilan dan Perdamaian Indonesia (YKPI), International Centre for Aceh and Indian Ocean Studies (ICAIOS), dan KontraS Aceh, menyebutkan bahwa sikap pemerintah pusat yang tidak menetapkan banjir Aceh sebagai Darurat Bencana Nasional menjadi bukti bahwa pemerintah pusat tidak peduli kepada korban.
“Atas kondisi itu, Pemerintah Aceh harus segera hadir dan menggunakan seluruh kemampuan untuk mengatasi dampak dari banjir besar yang terjadi di Aceh. Pemerintah Aceh harus segera melakukan refocusing atau pengalihan Anggaran Pendapatan Belanja Aceh atau APBA, seperti pengadaan mobil dinas kantor perwakilan Aceh di Jakarta sebesar Rp 6,5 miliar, pengadaan bibit di Dinas Pertanian dan Perkebunan Aceh sebesar 12 miliar, dan anggaran belanja lainnya yang tidak dibutuhkan di tengah kesusahan rakyat menjadi belanja penanganan bencana atau Belanja Tak Terduga (BTT),” kata Koordintar MaTA, Alfian, Rabu, 3 November 2025.
SEPEKAN LEBIH SETELAH BANJIR, Nurmawati, suaminya, anaknya, menantunya, dan cucunya mengungsi ke rumah adiknya, Marliana, 54 tahun, yang masih terletak di Gampong Blang Awe. Rumah Marliana berada di Cot Reum— di tengah-tengah areal persawahan— dan tidak terkena banjir bandang pada akhir November 2025 lalu. Jarak antara rumah Nurma dan adiknya itu adalah sekitar 500 meter lebih.
Nurmawati mengaku kehidupannya akhir-akhir ini sangat pelik. “Listrik padam total, tapi lilin kosong di pasar. Gas LPG juga kosong. Tidak dijual di mana-mana. Bensin dijual di eceran seharga Rp 18 ribu hingga Rp 25 ribu per liter. Di SPBU harus antri hingga satu kilometer lebih,” kata Nurmawati.
Penulis : M Rizal dan Firdaus
===
Tulisan ini direpublikasi dari website sinarpidie.co. Tautannya bisa diakses di https://sinarpidie.co/aksara/banjir-bandang-pidie-jaya-lumpur-setinggi-2-meter-alur-alur-sungai-baru-yang-mengarah-ke-pemukiman-penduduk-dan-kayu-kayu-damar-di-depan-rumah-warga/index.html