Presiden Prabowo Subianto melempar wacana penanaman kelapa sawit di Papua demi swasembada energi dan pengurangan impor BBM. Dalihnya efisiensi anggaran negara. Masalahnya, ide ini muncul ketika Indonesia justru sedang defisit hutan bukan defisit sawit. Lewat jutaan hektare sawit sudah menguasai daratan dan deforestasi belum terkendali, ekspansi ke Papua memicu pertanyaan besar: ini strategi energi, atau resep baru krisis ekologis? Di tengah banjir, konflik agraria, dan hutan yang makin menyusut, Papua kini diposisikan sebagai “cadangan terakhir”. Tapi benarkah itu pilihan paling masuk akal atau justru jalan pintas berisiko tinggi?